IMC 2026 Ditutup di Bekasi, Jawa Timur Tunjukkan Kekuatan Pembinaan Muaythai
BEKASI, IS – Kontingen Muaythai Indonesia Jawa Timur menunjukkan performa impresif pada Indonesia Muaythai Championship (IMC) 2026 yang resmi berakhir di GOR Bang Yan, Kota Bekasi, Minggu (9/8/2026).
Jawa Timur tampil dominan pada kategori Master & Elite usia 18–40 tahun dengan mengoleksi 12 medali emas, 3 perak, dan 1 perunggu. Sementara pada kategori seni, Jatim menambah 4 medali emas.
Capaian tersebut menempatkan Jawa Timur di posisi teratas untuk perolehan medali kategori Master & Elite sekaligus menjadi gambaran kuatnya proses pembinaan Muaythai di Jawa Timur.
Namun, jika melihat rekapitulasi seluruh kategori, Jawa Barat menjadi kontingen dengan perolehan medali terbanyak. Berdasarkan data yang ditampilkan panitia, Jawa Barat mengoleksi 40 emas, 50 perak, dan 48 perunggu.
Jawa Timur berada di posisi kedua dengan 30 emas, 13 perak, dan 12 perunggu. Sementara DKI Jakarta menempati posisi ketiga dengan 10 emas, 11 perak, dan 20 perunggu.
Perbedaan tersebut menunjukkan ketatnya persaingan pada IMC 2026. Jawa Barat unggul dalam jumlah keseluruhan medali, sedangkan Jawa Timur memperlihatkan dominasi kuat pada kategori Master & Elite.
Ketua Pengprov Muaythai Indonesia Jawa Timur, Baso Juherman, menyambut positif pencapaian para atletnya.
“Saya sangat bersyukur. Hasil ini sangat membanggakan. Para atlet Jawa Timur tampil luar biasa,” ujar Baso.
Menurut Baso, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kerja keras atlet, pelatih, dan pengurus, serta proses pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Ia menilai persaingan pada IMC 2026 berlangsung ketat karena mempertemukan atlet-atlet terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
Karena itu, raihan medali Jatim tidak hanya dipandang sebagai prestasi, tetapi juga menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pembinaan ke depan.
“Medali ini bukan sekadar angka. Di balik setiap medali ada latihan panjang, disiplin, pengorbanan, dan keberanian para atlet untuk bertanding membawa nama Jawa Timur,” katanya.
Baso menegaskan, capaian di Bekasi harus menjadi pijakan bagi Muaythai Jawa Timur untuk terus meningkatkan kualitas atlet, terutama dalam menghadapi agenda nasional dan internasional.
“Kami sangat mengapresiasi perjuangan mereka. Ini harus menjadi pijakan untuk meningkatkan kualitas atlet agar semakin siap menghadapi kejuaraan nasional maupun internasional,” tegasnya.
Ajang Seleksi Atlet Potensial
Indonesia Muaythai Championship 2026 tidak hanya menjadi arena perebutan gelar juara nasional. Kejuaraan ini juga menjadi bagian dari proses pemantauan dan penyaringan atlet potensial yang diproyeksikan menghadapi berbagai agenda internasional.
Ketua Umum PBMI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menilai penyelenggaraan IMC 2026 menunjukkan perkembangan positif, termasuk dari sisi kualitas pertandingan.
“Kita semua telah menyaksikan sebuah perubahan besar. Hasil dari Pelatihan Wasit dan Juri berstandar IFMA yang baru saja kita laksanakan, benar-benar diaplikasikan dalam Kejurnas ini,” ujar LaNyalla.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBMI Azwan Karim mengatakan seluruh pertandingan hingga partai final berjalan lancar.
“Semua final berjalan lancar. Pastinya ada cedera karena ini olahraga combat, tetapi semuanya dapat ditangani dengan baik oleh tim medis,” katanya.
Azwan menjelaskan, IMC 2026 menjadi salah satu instrumen PBMI untuk mencari dan memantau atlet potensial yang dapat diproyeksikan menghadapi agenda internasional.
Para atlet yang menunjukkan performa terbaik akan masuk dalam proses evaluasi dan seleksi untuk menghadapi berbagai agenda, termasuk SEA Games 2027 dan persiapan menuju PON 2028.
“Kejurnas ini menjadi ajang penyaringan bakat PBMI ke acara-acara internasional, khususnya tahun depan,” ujarnya.
Azwan menegaskan, keberhasilan seorang atlet menjadi juara di IMC 2026 tidak serta-merta membuat atlet tersebut mendapatkan tempat permanen di Pelatnas.
PBMI tetap akan melakukan evaluasi berdasarkan performa dan kebutuhan tim nasional.
“Pasti akan diseleksi. Pasti akan ada promosi dan degradasi bagi atlet-atlet yang ada di Pelatnas,” tegas Azwan.
PBMI juga tengah mempersiapkan sejumlah agenda internasional, termasuk rencana Indonesia menjadi tuan rumah Asian Muaythai Championship 2027 di Jakarta.
Jatim Tak Ingin Cepat Puas
Bagi Muaythai Indonesia Jawa Timur, hasil IMC 2026 menjadi modal penting untuk melanjutkan program pembinaan.
Dominasi pada kategori Master & Elite memperlihatkan bahwa atlet-atlet Jatim mampu bersaing dengan kontingen terbaik dari berbagai daerah.
Meski demikian, Baso Juherman menegaskan capaian tersebut tidak boleh membuat jajaran pengurus, pelatih, dan atlet cepat berpuas diri.
Evaluasi akan terus dilakukan untuk melihat berbagai aspek, mulai dari teknik, fisik, mental, hingga kesiapan atlet menghadapi kompetisi dengan level yang lebih tinggi.
“Kami akan terus melakukan evaluasi dan pembinaan. Targetnya tentu bukan hanya menjadi juara di tingkat nasional, tetapi juga menyiapkan atlet Jawa Timur yang mampu bersaing di level internasional,” ujarnya.
Berakhirnya IMC 2026 di GOR Bang Yan, Kota Bekasi, menjadi penanda bahwa persaingan Muaythai antardaerah semakin kompetitif.
Bagi Jawa Timur, capaian di Bekasi menjadi bukti bahwa proses pembinaan terus menghasilkan atlet berprestasi. Sementara Jawa Barat menunjukkan konsistensi sebagai pengumpul medali terbanyak secara keseluruhan, dan DKI Jakarta tetap berada dalam persaingan papan atas.
IMC 2026 sekaligus memperlihatkan semakin meratanya kekuatan Muaythai di berbagai daerah. Persaingan Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan kontingen lainnya menjadi modal penting bagi PBMI untuk membangun kekuatan tim nasional yang semakin kompetitif di level internasional. (*)
