KONI Jatim Dorong Atlet Laki-Laki Berani Bercerita, Soroti Tekanan Mental Jelang Porprov 2027

IMG-20260803-WA0223(1)_copy_639x426

SURABAYA, Ikisuroboyo.com – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur menaruh perhatian serius terhadap kesehatan mental atlet, khususnya atlet laki-laki yang dinilai masih minim memiliki ruang aman untuk menyampaikan tekanan maupun persoalan selama menjalani proses pembinaan.

Ketua Umum KONI Jawa Timur, M. Nabil, mengatakan masih banyak atlet laki-laki yang memilih memendam masalah dibandingkan mengungkapkannya kepada orang tua atau orang terdekat. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat berdampak pada perkembangan mental sekaligus prestasi atlet.

“Ini fenomena yang belum banyak dibahas. Anak laki-laki ketika menghadapi masalah sering tidak menyalurkannya kepada orang tua. Di dunia olahraga, mereka justru lebih banyak berinteraksi dengan pelatih. Jika semua dipendam, tentu akan menghambat perkembangan dan prestasi,” ujar Nabil di Kantor Sekretariat KONI Jawa Timur, Senin (3/8/2026).

Sebagai langkah pencegahan, KONI Jatim akan menginisiasi deklarasi yang mendorong atlet laki-laki lebih berani menyampaikan keluhan, tekanan, maupun persoalan kepada pelatih sebagai figur yang paling dekat dalam proses pembinaan.

Deklarasi tersebut akan melibatkan pelatih dan perwakilan atlet dari berbagai cabang olahraga. Program ini diharapkan menjadi awal terbentuknya budaya komunikasi yang lebih terbuka dan sehat di lingkungan olahraga Jawa Timur.

Nabil menegaskan bahwa bullying dalam dunia olahraga tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Tekanan psikologis akibat tuntutan prestasi juga perlu mendapat perhatian serius.

“Bullying tidak selalu fisik. Target juara, tuntutan pelatih, ekspektasi orang tua, hingga tekanan dari diri sendiri juga bisa menjadi beban psikologis yang harus diperhatikan,” katanya.

Ia menjelaskan, tekanan tersebut dapat dialami seluruh atlet, baik yang baru memulai karier maupun mereka yang telah berulang kali meraih prestasi.

“Atlet yang sudah sering menang justru memiliki tekanan lebih besar untuk mempertahankan prestasi. Sementara atlet pemula juga terbebani keinginan menjadi juara. Keduanya sama-sama menghadapi beban mental,” jelasnya.

Gerakan tersebut sejalan dengan kampanye “Ayah Bunda, Anak Laki-Lakimu Butuh Kamu” yang diinisiasi DPC Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Kota Surabaya bersama RSD Prof. dr. Moeljono Surabaya. Kampanye itu mengajak orang tua memberikan ruang aman bagi anak laki-laki untuk mengekspresikan emosi tanpa stigma.

Ketua DPC FPPI Kota Surabaya, Nenny W. Gunarso, mengatakan masih banyak orang tua yang menganggap anak laki-laki tidak boleh mengeluh atau menunjukkan kesedihan. Padahal, kebiasaan memendam emosi dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental.

“Sering kali anak laki-laki diminta untuk tidak mengadu. Padahal memendam rasa sakit atau kecewa bisa berbahaya bagi kesehatan mental mereka,” ujarnya.

Sebagai bentuk komitmen bersama, KONI Jatim, FPPI Kota Surabaya, dan RSD Prof. dr. Moeljono Surabaya akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) sekaligus mendeklarasikan gerakan tersebut pada Selasa, 11 Agustus 2026, di Gedung KONI Jawa Timur.

Melalui program ini, KONI Jatim berharap tercipta ekosistem olahraga yang tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga peduli terhadap kesehatan mental atlet. Gerakan tersebut ditargetkan dapat diperluas ke seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur sebagai bagian dari pembinaan menuju Porprov Jawa Timur 2027.

“Harapan kami, tidak ada lagi anak laki-laki yang memendam masalah sendirian. Pelatih harus menjadi tempat yang aman bagi atlet untuk bercerita sehingga persoalan bisa diselesaikan lebih cepat dan tidak mengganggu perkembangan maupun prestasi mereka,” pungkas Nabil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *